Mulai besok aku memutuskan untuk mengubah doaku pada Tuhan. Aku ingin bertemu teman-teman lamaku. Ya. Jika dulu aku meminta masuk surga, meminta hidup bahagia, seminggu kemarin aku minta Tuhan menipiskan rambutku yang terlalu tebal. Lalu sekarang aku minta bertemu dengan teman-teman lamaku.
Aku tidak putus asa. Aku hanya penasaran. Aku si rambut singa – sekarang sudah mulai rontok – baru saja hendak mencapai umur 30 tahun. Ramai dengan keluarga lengkap yang bahagia. Kadang ramai pula teman-teman datang berkunjung.
Emir, ia pegawai kantor pos yang kaya. Otaknya yang pintar digunakan untuk mengakali hitungan angka keuangan perusahaannya. Dengar-dengar dulu ia murid teladan di elementary school. Tapi itulah, aku takkan pernah bisa memuaskan penasaranku karena aku tak bisa kembali ke masa lalu. Dan aku pun tak hendak meminta itu pada Tuhan.
Kasihan, kemarin nenek telah meminta kepada Tuhan agar dimudakan sepuluh tahun. Kuharap Tuhan memaafkan permintaannya yang terlalu menuntut. Meski Tuhan selalu mengabulkan. Oh iya, aku lupa cerita. Kami, keluarga Fritz mempunyai rahasia keluarga yang diturunkan lewat dongeng sebelum senja tiba di pelupuk mata.
Kami tak punya keistimewaan tertentu. Hidup sebagai penjual bunga, tinggal di desa yang sunyi dengan wangi sandalwood. Kami juga tak giat berdoa semacam kebaktian di gereja. Kami hanya bersimpuh berlutut di sebuah kain kotak yang dicuci perempuan dalam rumah setiap harinya. Tapi kami selalu berdoa. Tiap membuka mata, membasuh tangan, merapikan kelopak bunga, berkebun, berbelanja ikan di pasar, dan semua lainnya. Itu doa yang sama oleh kita, keluarga Fritz. Hanya doa meminta semua berjalan baik.
Tapi setiap senja menguning, Carl – ayam jantanku selalu berkokok setiap senja menguning – kami masuk kamar masing-masing dan berdoa. Kadang Amelie, adikku yang manis, minta agar Carl panjang umur, Ayah selalu meminta dua hal – panjang umur untuknya dan untuk bunga-bunga, ibu meminta masakannya selalu enak, dan nenek sudah 5 hari ini meminta dimudakan sepuluh tahun. Dan saat berdoa setelah senja itulah, Tuhan selalu mengabulkan doa kami.
Lalu setelah makan malam kami selalu memberitahu doa senja tadi. Amelie kadang malu-malu mengutarakan doanya, nenek dengan berapi-api berusaha membujukku agar memperkenankan ia mendoakan aku mendapat jodoh. Jika sudah begitu, ayah selalu membelaku. Lelaki memang tak bisa terlalu cepat menikah. Siapa yang akan menanam kembali bunga-bunga lalu memetiknya? Dan nenek selalu kembali pada doanya yang biasa. Minta dimudakan sepuluh tahun.
Sekarang nenek sudah berparas seranum Amelie. Amelie juga sudah terbiasa mengenalkan nenek sebagai sepupu kepada teman-temannya. Tapi temannya tak pernah betah bermain dengan ’sepupunya’. Sepupumu terlalu cerewet untuk gadis seusianya. Begitulah alasan mereka. Akhirnya nenek mengaku juga sebagai nenek Amelia. Karenanya, teman-teman perjaka Amelie kembali memanggilnya ‘nenek’. Nenek yang muda.
Aku dulu memang minta masuk surga, tapi kubatalkan. Meski katanya indah, aku tak yakin bisa betah disana. Pernah sekali aku diajak Roberto ke tengah kota. Geregap lampu di jalanan saja membuatku pusing, apalagi lampu di dalam rumah surga – begitu Roberto menyebutnya. Satu-satunya yang membuatku bahagia di sana adalah wajah Roberto yang tampak cerah menghadapi dara muda yang memakai kain di dada. Pusar mereka tampak, rambut pirangnya pun berkilau ditempa lampu yang berputar-putar di atap. Mereka menari sampai pagi, sementara aku sudah lama tergeletak pingsan di meja bar. Kata Roberto aku tak tahan alkohol. Pikiran buruk pun merasukiku setelahnya. Jika Roberto menganggap itu adalah rumah surga, maka bisa jadi Tuhan memiliki persepsi lain daripada aku tentang surga. Maka aku akhirnya minta hidup bahagia.
Lebih dari sebulan aku meminta hidup bahagia. Tapi tiap pagi yang kulihat hanyalah bunga krisan yang menyembul dari balik jendela mengucapkan selamat pagi. Lalu aku bangkit, membasuh muka, mengganti piyama dengan overall bergambak katak di kantong depannya, makan semangkuk sup kacang merah, menyomot sosis dari penggorengan, dan menuju kebun. Setelah berkebun, aku berdoa lagi dan lagi. Dalam ucapan yang sama dari doa lalu, tapi esok harinya tetap seperti itu adanya. Amelia sampai bertanya kepada ayah kenapa doaku tidak dikabulkan.
Ayah berpikir keras, ibu juga, tapi tak ada jawaban. Menurut mereka, tak pernah ada di keluarga ini yang tak dikabulkan doanya. Maka Amelie mengusulkan ide brilian. Cobalah meminta sesuatu yang mudah dulu kak. Seperti, meminta rambut singamu itu ditipiskan misalnya. Begitu ucap Amelie lembut. Dan karena itu ide bagus meski aku benci mengakui di depan keluarga bahwa rambutku sangat jelek. Maka aku memutuskan mengganti doa senjaku.
Sekarang rambutku sudah setipis dan sehalus gadis-gadis muda yang cekikikan di tepi kebunku. Kilaunya melebihi rambut indah Amelie. Ia iri dan hampir saja hendak berdoa yang sama. Untung ayah mengingatkannya. Di keluarga kami, tak boleh ada yang memiliki doa serupa. Karenanya setiap usai makan malam, kami selalu mendiskusikan doa apa yang ingin diucapkan esok senja. Jadi sekarang rambut kuikat. Karena kemarin nenek mengira aku Amelie dan menepuk pundakku dari belakang. Aku tak suka ditepuk di pundak.
Aku duduk di beranda sore-sore. Coklat panas di nampan kayu lewat di depanku. Amelie yang membawanya.
“Kakak, minum coklat panas dulu baru membasuh kaki dan tangan.” Ya, tubuhku menggigil selalu di sore-sore. Udaranya memang dingin di bulan ini. Hampir musim dingin. Sebentar lagi aku akan melingkar saja di sofa menunggu musim baru tiba. Seperti beruang besar atau bunga-bunga di kebunku. Hanya saja mereka tidak minum coklat panas setiap sorenya.
Mudah-mudahan mereka tidak membenciku. Sesekali saja kutuang coklat panas itu ke kebun, tanpa Amelie, ayah atau ibu tahu.
“Belumkah ada yang datang, Kak?” Amelie menanyaiku lagi. Ucapannya selembut bidadari. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Belum seminggu.” Lalu ia menunduk setelah kuucapkan itu. Ia mungkin takut melukai perasaanku. Ayah pernah berkata bahwa aku seperti anak umur 5 tahun saat umurku 10. Begitu juga ketika umurku 15, 20, dan 25. Perkiraan ayahku selalu menunjukkan bahwa aku lebih muda 5 tahun dari usiaku. Dan ayah pernah memikirkan kemungkinan bahwa karena sebab itulah doaku lama dikabulkannya.
Mungkin karena itu juga di tiap ulang lima tahunanku, selalu dirayakan lebih meriah dibanding ulang setiap tahun. Selalu ada sosis besar di nampan. Sup krim jamur dengan remah oregano diatasnya. Juga kue-kue manis yang sangat kusuka. Jadi tiap kali ulang lima tahun, kuanggap itu berkah. Tapi Amelie, ibu, dan nenek selalu menundukkan mukanya selagi tetangga membicarakan hal itu. Juga seperti saat ini.
“Jangan lagi menundukkan kepala.” ucapku. Amelie menoleh padaku dan mengangguk. Dipeluknya kepalaku dengan lengannya. Aku merasa sedikit hangat. Tapi ini sudah lebih dari 5 hari dari doaku meminta teman lama datang. Jika hanya karena aku lebih muda 5 tahun, Tuhan kurang mendengarkan doaku, maka aku ingin sekali memarahi-Nya.
Nenek saja yang sekarang lebih muda berpuluh-puluh tahun dari umurnya, masih Kau dengar doanya.
Begitu mungkin yang ingin kukatakan pada-Nya. Tapi karena aku masih percaya doaku akan dikabulkan, aku menunggu dengan khidmat kedatangan teman lamaku.
“Kakak masuklah saja, disini mulai dingin.” Amelie memaksaku masuk. Ia tak bisa merasakan hatiku yang riuh akan rasa penasaran. Bagaimanakah Vincent si tampan itu setelah tuanya? Mungkinkah ia berkeriput bergelambir karena tak lagi punya cukup doa untuk tetap muda? Akankah Mary masih tetap tersipu mendengar suara nyanyianku? Juga Magy adiknya. Lalu bukankah Roberto sudah lama juga tak datang kemari?
Gumaman-gumamanku semakin menggema dalam gigil. Tapi aku sudah bertekad akan menunggu sampai pagi. Amelie sudah tak lagi memelukku. Ia takut sekali melewatkan doa senja. Ayah dan Ibu juga nenek tampaknya sedang sibuk mempersiapkan berbagai macam hidangan dan kudap untuk perayaan ulang lima tahunku, karena aku sekarang sudah 30.
Kemarin sudah kuingatkan ibu untuk membuat sedikit saja sosis panggang. Teman-teman lamaku tak begitu menyukainya. Mereka teratur makan roti bagel yang dicelupkan di sup krim jamur, dulu saat acara makan bersama tiba. “Jadi bu, cukup sup krim jamur saja.” Pintaku.
Bintang di langit tidak ada. Jadi aku tak tahu lagi sudah berapa tinggi malam menghampiriku. Tanganku hendak bergerak tapi sudah kaku oleh dingin. Tapi hatiku hangat meloncat-loncat. Perasaan rindu ini sudah lama menjadi terlupa. Mungkin mereka tidak sama lagi seperti dulu. Ucap Amelie tadi. Tapi aku yakin mereka masih mengingatku.
Mereka akan menyambut bentangan tanganku dengan senyuman hangat dan dekapan erat yang lama. Akan segera tubuhku dialiri sesuatu. Yang ingin meluap hingga ke tenggorokan, tapi bukan kotor seperti ingin muntah. Tak juga ingin menangis. Karenanya aku akan sesak napas oleh gelombang rasa yang menderu-deru menyambut teman-teman lamaku itu.
“Apa kabar?” Kubayangkan itulah yang akan keluar dari mulutku pertama kali.
“Ah, engkau semakin gendut Vincent!”
“Ya ampun Mary..anakmu sudah 5!”
“Magy, engkau masih semanis dulu.”
“Oh Roberto, jangan lagi cerita tentang dara-daramu itu. Aku iri.”
Hahahahahahaha.
Hahahahahahahahaha.
Aku menghangat. Meluap. Tanganku tak lagi beku kaku. Dan matahari agak silau di mata.
–
Oh..itu dia mereka datang. Berduyun-duyun menujuku. Menyalami ayah, ibu, Amelie, dan nenek yang tersedu. Aku di pembaringan hanya bisa menoleh sedikit. Badanku tak leluasa bergerak dari peti sekecil ini.
Vincent! Ini aku! Aku girang menatap wajahnya yang ternyata bukan gemuk. Aku masih saja iri dengan ketampanannya. Di sebelahnya tersenyum getir paras cantik milik Mary. Mary..mana anakmu. Mary..Mary.. Ah, siapa yang memakaikan sarung tangan padaku. Diikatnya pula tangan ini dengan segenggam bunga krisan. Aku jadi tak bisa membentangkan tanganku lebar-lebar pada teman lamaku.
Di belakang Mary tampak Magy dengan pipi menggelembung karena kemudaan yang hilang. Memang, dari dulu aku selalu mengira bahwa Magy-lah yang paling cepat keriput. Kupastikan jika Roberto datang padaku setelah ini, ia akan meletakkan 5 shilling di tanganku, sebagai tanda kemenanganku taruhan melawannya.
Ah, itu dia. Hai Roberto, mana uangku. Lihatlah Magy yang mengembang pipi dan perutnya. Ia sudah pantas menjadi penyanyi seriosa sekarang. Hahaha. Tapi Roberto hanya meratapiku dalam bisu. Inikah hasil jerihku menunggu mereka semalaman?
—
“Malang sekali dia.” Ibuku berbicara di ujung meja berisi penuh sup krim. “Kemarin ia meminta dibuatkan sup krim seluruhnya. Tak ingin ada sosis panggang kesukaannya. Ternyata..”
Ah, ibu..aku hanya ingin membuat teman-teman lamaku senang saja. Aku bergumam sendiri.
Ayah memeluk ibu erat dan membisikkan kata-kata yang lamat kudengar sebagai. Dia sudah beruntung bisa menikmati hidup selama ini. Anak istimewa lain hanya bertahan sampai 15 tahun.
Semua orang rupanya sedang membicarakanku. Aku beruntung bisa ini, aku beruntung bisa itu. Tapi tak satupun memedulikanku. Mereka hanya berdiri, bercakap-cakap mencicipi sup dengan ujung sendok, lalu duduk dan menepuk-nepuk pundak ibuku.
Aku hampir habis harapan saat adikku, Amelie, menghampiri tempatku tidur saat ini.
Kakak, kamu sangat beruntung. Permohonanmu dikabulkan Tuhan. Lihatlah, mereka semua ada disini untuk menemuimu. Tersenyumlah kak..tersenyumlah.
Lalu aku tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah kuberikan pada siapapun. Karena kini aku tahu Tuhan tidak melupakan aku meski aku lebih muda 5 tahun dari umurku.